POTRET di Aidilfitri yang menjadi memori berharga
POTRET di Aidilfitri yang menjadi memori berharga
Oleh Entom Lasa

   

Bisik pada kalbu tentang hal apakah yang membangkitkan rasa rindu setiap kali lebaran datang bertamu.

Ada kenangan yang mengusik jiwa sampai ada antara kita menitiskan air mata sedih atau gembira ketika sedang merayakan pagi Syawal yang mulia.

Sesiapa pun kita, pasti ada cerita nostalgia hari raya yang selalu hadir menjadi momen kerinduan akan suasana dan kenangan pada waktu itu.

Nostalgia hari raya terindah saya adalah ketika dapat menangkap potret bersama keluarga tercinta.

Bukan mudah bagi kami dapat berkumpul bersama-sama semua adik beradik, pulang serentak ke rumah di mana tempat kami membesar semua.Begitulah suasana hari raya dirayakan bersama bonda dan ayahanda tercinta.

Lebih-lebih lagi ketika meniti usia kedewasaan yang masing-masing dengan hal rumah tangga.

Ada yang jauh, semestinya peluang untuk dapat pulang dan berkumpul pada satu Syawal itu sesuatu yang sukar. Dan kali ini, kami sekeluarga berkesempatan mengabadikan potret bersama.

Ternyata hari raya itu adalah nikmat hari raya paling bahagia. Bayangkan potret itu adalah potret terakhir untuk ayahanda tercinta. Kemudian bonda dan abang sulung menyusul berangkat pulang ke negeri abadi selang beberapa tahun seterusnya.

Potret terakhir itulah satu-satunya menjadikan nostalgia elemen sentimental kepada kami sekeluarga.

Setiap kali menatap potret itu yang menjadi perhiasan dinding rumah, itulah tatapan kerinduan paling indah. Malah, bagi saya lebih bermakna dari jutaan mata menatap potret asli Monalisa.

Potret terakhir itu menjadi khazanah warisan kepada legasi keluarga tercintaku. Kenangan bersama ketika tangkapan potret itu tepat pada pagi lebaran yang mulia.

Kerana itu, kami merasakan hadir bersama potret itu adalah ikatan cinta yang utuh. Seutuh monumen Taj Mahal, lambang kasih sayang Shah Jehan kepada isterinya Muntaz Mahal.

Bukan tatapan indahnya suasana, tetapi nostalgianya insan yang hadir dalam lingkungan potret itu menjadikan potret itu lebih epik dan bermakna untuk ditatap dan dihayati generasiku seterusnya.

Susun atur setiap anggota keluarga dalam potret itu cukup harmoni, sepertinya diatur dalam untaian tasbih cinta. Andai masih lestari puisi Jalaludin Rumi tentang Cinta, begitu juga harapan kami di dalam potret itu, inspirasi keabadiaan cinta sebuah keluarga.

Rakam dan tangkaplah momen terindah anda bersama insan tersayang selagi berkesempatan dan jangan biarkan peluang terbaik itu terlepas atau anda akan kehilangannya.

Artikel ini disiarkan pada : Sabtu, 13 April 2024 @ 8:10 AM